Minggu, 29 Maret 2015

Menimbang Tuhan dengan logika

Ketika temen temen membaca judul diatas mungkin terbesit di dalam hati teman teman menuduh saya sebagai orang liberal,kiri muktazilah atau bahkan lebih ekstrem lagi seorang atheis.berkembangnya sebuah paradigma dan mainstrem bahwa agama dan Tuhan adalah sesuatu yang bersifat subjektif dan lepas dari nalar, mengimaninya adalah wajib dan mempertanyakanya adalah dosa, sesat,kafir zindiq dan bebagai macam vonis yang berujung pada neraka  selalu melekat di belakang nama mereka yang mencoba menggapai Tuhan dengan nalarnya entah mulai kapan dan bagaimana prosesnya ? saya tidak tau.
Tuhan memang tidak terbatas dan manusia terbatas, ini sebuah diktum mutlaq yang kita sepakati bersama namun dengan diktum ini bukan berarti Tuhan tidak bisa di nalar bahkan dalam beberapa literatur orang yang mengimani  Tuhan dan melaksanakan ajaran ajaran Tuhan yang disampaikan lewat utusanya disebut sebagai mereka yang terselamatkan dan tidak akan pula memahami akan ajaran Tuhan kecuali bagi mereka YANG BERFIKIR.Sebutan jahiliyyah,domba yang tersesat dan  primitif selalu melekat pada mereka yang  tidak mau mengimani Tuhan atau mereka yang “gagal” memahami Tuhan.kerana agama sebagai sebagai aturan perangkat yang di turunkan oleh Tuhan dijalankan oleh yang manusia yang berakal sungguh menjadi pertanyaan adalah bisakah ajaran agama yang tidak masuk akal di jalankan oleh meraka yang berakal ?
sejak digunakan oleh zeno dari citium logika[i]  merupakan  ilmu yang digunakan sebagai pisau analisa sebuah premis ataukah doktrin. logika memang telah dirasa khasiatnya,logika membantu manusia berfikir lurus,efisien,tepat dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan .
Segala sesuatu yang padanya terdapat kebenaran,pasti bisa di nalar oleh manusia mungkin akal manusia belum sampai kepadanya dalam artian belum sampai untuk memecahkan sebuah persoalan ataupun fenomena yang ada misalkan jika kesurupan(masuknya lelembut dalam tubuh manusia)  itu benar adanya  ilmu pengetahuan harus bisa memecahkanya sains harus bisa memecahkanya.
Aristotles(lahir : 384 SM)  mempunyai teori tentang causa prima(penyebab awal) guna menalar dan melogikakan Tuhan sehingga Tuhan menjadi masuk akal namun agaknya pendapat aristoteles tersebut berbeda dengan abrahamic religion(agama agama ibrahimiyyah) kerana aristoteles tidak mengakui Tuhan sebagai kholik/pencipta kerana menurutnya jagat raya adalah kekal hanya geraknya di ciptakan oleh Tuhan[ii]
Yang dimaksud dengan kebenaran adalah kesesuaian antara pikiran dan kenyataan serta ada  kesuaian atau tidak adanya sesuatu yang bertentangan dalam dirinya  maka akan salah jika kita katakan yudha adalah orang bisu yang  menjadi  juara 1 MTQ (lomba baca qur’an),Pertentangan pemikiran terdapat pula pada sesuatu yang tidak dapat di tangkap pengertianya/maksudnya (dalam term nahwu disebut mufid) maka akan salah jika kita katakan Tuhan bisa membuat tongkat yang berujung satu,Tuhan bisa memasukan benda bervolume 40 cm kedalam benda bervolume 10 cm ,Tuhan bukanlah manusia namun Tuhan Mewujudkan dirinya menjadi manusia ataupun Tuhan dapat menciptakan mahluk yang tidak mempunyai sifat-sifat kemahlukan.
Banyak dari persoalan persoalan tentang trinitas ataupun trimurti Ataupun adanya Tuhan berwujud manusia(arrobu almutajasad/antroporism) hingga kini masih menjadi  persoalan yang dirisaukan antar  agama besar namun ketika kita melirik logika persoalan tersebut akan selesai,bagi logika persoalan persoalan di atas adalah salah kerana tidak menghasilkan maksud yang bulat.
Logika tidak mengakui adanya dualisme dalam kebenaran maka akan salah(tidak logis) ketika kita mengatakan  1 + 1 adalah 3 atau 5 atau berapa saja selain 2 karena menurut akal 1+1(bilangan real) adalah 2,maka ajaran ,sekte ataupun apa saja  yang mengatakan  1 = 3 tidak masuk akal kerana memang secara logika tidak masuk dan tidak bisa di akal dan ketika ada orang yang tidak bisa melogikakan 3 adalah 1 bukan berarti  akal dia belum sampai tapi memang itu merupakan hal yang berlawanan dengan akal dan kebenaran logika  namun harus disadari adakalanya  manusia tidak mampu menghitung  12 : 1/3 x 1/6 : 1/4 kerana memang kemampuan manusia terbatas namun tentunya perkalian dan pembagian di atas TETAP MASUK AKAL  kerana pasti ketemu dan ada jawabanya walaupun membutuhkan waktu justru kerana membutuhkan waktu manusia tertantang untuk menciptakan kalkulator guna menjawab perhitungan perhitungan yang rumit dengan cepat.
Tulisan saya ini mungkin akan menyinggung para penganut agama lain namun ini hanyalah sebuah cara agar kita dapat menuntaskan apa yang selama ini jadi problem kita bersama saya menyadari bahwa tulisan  ini ibarat sebuah lilin walaupun ia bukan lah matahari yang cahayanya dapat menyinari dunia namun harus kita akui secercah cahaya lilin telah turut serta dalam menerangi kegelapan dan memberi sedikit warna baru dalam kegelapan daripada mengutuk kegelapan dan menunggu datangnya pagi lebih baik kita menyalakan lilin untuk menerangi kegelapan.






[i] Mundiri,logika(semarang : raja grafindo persada,1994)
[ii] K.bertens,sejarah filsafat yunani(yogyakarta : kanisius,1988)

Oleh oleh arjuno

“Naik-naik kepuncak gunung tingi-tinggi sekali” begitulah kata sebuah lagu.lagu yang kita nyayikan ketika pada masa taman kanak-kanak bahkan kita hafal diluar kepala .bagi sebagian besar  orang naik gunung merupakan hal yang sangat membosankan bahkan menjadi aktivitas yang sia-sia namun bagi sebagian orang mendaki  gunung merupakan salah satu hal yang menyenangkan mereka menganggapnya sebagai latihan(riyadhoh) untuk mengetahui siapa diri mereka untuk mengenal  jati diri mereka .termasuk di antaranya Imamuna Abu Hamid Al Ghozali Rohimahulloh Bahkan beliau mengangapnya sebagai salah satu cara agar kita bisa fokus ibadah dan salah satu cara merefreskan pikiran kita dari penatnya kehidupan dunia namun bukan berarti beliau menganjurkan  kita untuk berdiam diri dan berlama –lama di gunung tidak sama sekali tidak.kita umat sayyiduna Muhammad Shollohu alaihi wa sallam yang mau tidak mau selama hayat masih di kandung badan kita masih terikat dengan syari’atnya[i] ,dan kita tak bisa pungkiri bahwa Alloh Ta’ala menciptakan kita sebagai mahluk sosial yang tidak bisa lepas dari manusia yang lainya bahkan Alloh Ta’ala pun memerintahkan kita  untuk bersosialisasi dan menyambung ukhuwah (Qs.alhujarat   :  13)

Semua tergantung niat
Alloh ta’ala menurunkan Qs.3:191 berkenaan dengan pertanyaan nakal seorang quraisy kepada nabi muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang mempertanyakan tanda-tanda keEsaan Alloh ta’ala lantas alloh ta’ala menjawabnya dengan ayat ini.
Memang tidak akan bisa melihat mendengar merasakan atas  ke Esaan Alloh jalla wa a’la kecuali seorang ulil albab yakni lidawiyi uqul mereka yang mempunyai akal dan mempergunakan sebagai mana mestinya.berdecak kagum dan takut hati mereka melihat kemaha esaan alloh ta’ala mereka berdizikir mengingat nama alloh menyabut namaNya dengan jiwa raga mereka.
Ada mereka yang naik gunung untuk sakti,atau ada pula mereka yang naik gunung hanya sekedar plesiran dan ikut ikutan teman(tentunya niat merupakan sesuatu yg asasi dari manusia) sehingga dalam rangka apa ia naik gunung kembalinya kepada person masing-masing.
Namun jika kita meniatkan diri untuk bertafakur dan mentadabburi ayat ayat Alloh ta’ala di alam raya ini dalam membaca kitab Alloh ta’ala yang tidak tertulis (jw : kitab teles) sungguh merupakan sebuah proses pemahaman akan tauhid.
Nabi bersabda : tafakkaruu fi kholkillah wala tafakkaruu fi dzatillah (bertafakurlah kamu semua tentang ciptaan Alloh ta’ala dan  janganlah kamu semua bertafakkur  tentang “dzat” Alloh ta’ala).

Siapa diri kita ?
Sebuah pertanyaan filosofis yang bagi sebagian orang jawaban ini akan ditemukan ketika kita naik gunung  naik gunung merupakan aktivitas yang melelahkan dan menguras tenanga yang amat banyak tentunya puncak menjadi tujuan akhir dari para pendaki. arjuno dengan tingginya melebihi 2000 mpdl dengan rute yang menanjak mungkin kemiringanya 70 derajat  tentunya merupkan  rute yang membosankan ,nah dari kejenuhan ini biasanya muncul dalam hati ini mengeluh hingga ngomel gak karu karuan dalam hati,bimbang hingga mengutuk diri sendiri dan menyesali diri sendiri hingga menyerah dan tak mau meneruskan perjalanan,ataupun ada juga mereka yang  ngotot untuk jalan sementara temanya sudah menyerah dalam kepayahan dan tak mau meneruskan perjalanan jadi ketika naik gunung lebih-lebih pertama kalinya semuanya tentang diri anda akan kelihatan ,naik gunung ibarat sebuah cermin yang akan menelanjangi diri kita.

Solidaritas
Air merupakan kebutuhan yang sangan urgen dan vital bagi manusia lebih lebih lagi ketika kita naik gunung tentunya kebutuhan kita akan air lebih banyak lagi namun sebuah fenomena yang menarik dan patut di contoh adalah ke”mau”an seorang pendaki berbagi air bahkan bekal dengan pendaki lain(padahal diapun juga sama membutuhkanya).
Sebuah fenomena yang mungkin langka sekali bahkan bisa dikatakan telah punah dalam kehidupan masyarakat modren,kapitalisme telah masuk dalam sendi sendi kehidupan seseorang.hedonisme dan materialisme telah menjadi kepribadian manusia hingga tidak ada satu jengkal pun dari bumi tidak lepas yang namanya pajak(sak kilan bumi di pajeki).
Namun kondisi diatas tidak akan berlaku ketika kita naik gunung,gunung seolah memanggil para pendakinya dan menyelipkan rasa di hati para pendakinya akan adanya rasa “senasib sepenanggungan” sehingga ketika kita bertanya dan meminta sesuatu dari pendaki lainya belum pernah ada kata ”Tidak” yang terucap dari mulut seorang pendaki tersebut. Di gunung semua sama tak ada yang berbeda tak ada kelas sosial kita berdiri sama tegak jonggok sama rendahnya.
Sebagai catatan subjektif sebenarnya banyak ilmu yang bisa kita peroleh dari pendakian gunung bukan hanya arjuno namun di semua gunung yang pernah saya ndaki pasti ada yang namanya solidaritas dan pengungkapan jati diri  mendaki gunung merupaka sebuah pembelajaran tentang siapa kita ? bahkan lebih jauh lagi tentang kemaha indahan Tuhan kita kerana memang tiada yang bisa di upayakan kecuali belajar dan belajar  kerana belajar tak mengenal waktu.



[i] [i] Ihya ulumuddin(II/239)

Menjamurnya spirutualisme

“Likulli maqomin maqolun walikulli maqolun maqomin”
disetiap tingkatan ada bahasa dan disetiap bahasa ada tingkatan  (risalatul maymuniyah)

Dewasa ini banyaknya kawula muda khususnya dalam dunia akademis yang menggandrungi spiritualisme hal ini di tandai dengan maraknya kajian ataupun kegiatan kegiatan keagamaan yang mulai marak dan masuk kedalam kampus.spiritualisme dalam artian jalan untuk menuju Tuhan untuk menuju sang pencipta manusia ,sebagai sebuah ilmu yang bersifat esoteris ada berbagai macam tingkatan tingkatan atau maqom yang berbeda di setiap pelaku spiritualisme.
Penulis sendiri sehari hari berkumpul bergaul bahkan berdiskusi dengan pelaku spiritualisme zikir,wirid dan suluk menjadi makanan mereka dalam berhari -hari namun tidak jarang pula kita menemukan sebuah “penyimpangan spiritualitas” akibat dari “laku” yang banyak menimbulkan kegoncangan jiwa,bahkan ada pula yang menimbulkan depresi berat .
Sayangnya hal semacam ini dianggap biasa bagi mereka yang menggandrungi  esoterisme bahkan hal seperti ini dianggap sebagai berhasilnya praktek spiritual mereka.Saya pernah berdiskusi dengan salah seoarang pelaku spritualisme yang pada akhirnya berkesimpulan bahwa unttuk berbicara apa itu spiritualisme kita tak bisa dan tak cukup dengan kata kata mau tidak mau kita  harus menyelami nya kemudian dia beranalogi dengan sebuah kopi bahwa kita tak akan tau rasanya kopi kalau anda tak mencobanya.yah memang sampai disini saya sepakat bahwa untuk mengetahui suatu rasa kita tidak bisa kata orang,namun akan menjadi sebuah mekanisme pengambilan kesimpulan yang salah apabila diktum ini disama ratakan(gebyarologi) dengan perkara yang lainya.
Sungguh  akan salah fatal jika kita menyimpan diktum itu dalam hati kita dan tanpa pandang bulu dimana pun dan kapanpun ia bisa di gunakan tau ketika kita berucap kita tak akan tau rasanya kopi kalau anda tak mencobanya itu sama saja dengan mengatakan  dari mana nabi tau dasyatnya siksa kubur bukankah nabi sendiri belum pernah merasakan siksa kubur ? betapa banyaknya ajaran agama ini yg tidak boleh di sampaikan.

Maka benarlah ungkapan syaikh shohibul kitab risalatul maymuniyah hafidohulloh maka tempatkanlah sesuatu sesuai dengan tempatnya.(may)