“Naik-naik kepuncak gunung
tingi-tinggi sekali” begitulah kata sebuah lagu.lagu yang kita nyayikan ketika
pada masa taman kanak-kanak bahkan kita hafal diluar kepala .bagi sebagian
besar orang naik gunung merupakan hal
yang sangat membosankan bahkan menjadi aktivitas yang sia-sia namun bagi
sebagian orang mendaki gunung merupakan
salah satu hal yang menyenangkan mereka menganggapnya sebagai latihan(riyadhoh)
untuk mengetahui siapa diri mereka untuk mengenal jati diri mereka .termasuk di antaranya
Imamuna Abu Hamid Al Ghozali Rohimahulloh Bahkan beliau mengangapnya sebagai
salah satu cara agar kita bisa fokus ibadah dan salah satu cara merefreskan
pikiran kita dari penatnya kehidupan dunia namun bukan berarti beliau
menganjurkan kita untuk berdiam diri dan
berlama –lama di gunung tidak sama sekali tidak.kita umat sayyiduna Muhammad
Shollohu alaihi wa sallam yang mau tidak mau selama hayat masih di kandung
badan kita masih terikat dengan syari’atnya[i]
,dan kita tak bisa pungkiri bahwa Alloh Ta’ala menciptakan kita sebagai mahluk
sosial yang tidak bisa lepas dari manusia yang lainya bahkan Alloh Ta’ala pun
memerintahkan kita untuk bersosialisasi
dan menyambung ukhuwah (Qs.alhujarat : 13)
Semua
tergantung niat
Alloh ta’ala menurunkan Qs.3:191 berkenaan
dengan pertanyaan nakal seorang quraisy kepada nabi muhammad shollallohu alaihi
wa sallam yang mempertanyakan tanda-tanda keEsaan Alloh ta’ala lantas alloh
ta’ala menjawabnya dengan ayat ini.
Memang tidak akan bisa melihat
mendengar merasakan atas ke Esaan Alloh
jalla wa a’la kecuali seorang ulil albab yakni lidawiyi uqul mereka yang
mempunyai akal dan mempergunakan sebagai mana mestinya.berdecak kagum dan takut
hati mereka melihat kemaha esaan alloh ta’ala mereka berdizikir mengingat nama
alloh menyabut namaNya dengan jiwa raga mereka.
Ada mereka yang naik gunung untuk
sakti,atau ada pula mereka yang naik gunung hanya sekedar plesiran dan ikut
ikutan teman(tentunya niat merupakan sesuatu yg asasi dari manusia) sehingga
dalam rangka apa ia naik gunung kembalinya kepada person masing-masing.
Namun jika kita meniatkan diri untuk
bertafakur dan mentadabburi ayat ayat Alloh ta’ala di alam raya ini dalam
membaca kitab Alloh ta’ala yang tidak tertulis (jw : kitab teles) sungguh
merupakan sebuah proses pemahaman akan tauhid.
Nabi bersabda : tafakkaruu fi
kholkillah wala tafakkaruu fi dzatillah (bertafakurlah kamu semua tentang
ciptaan Alloh ta’ala dan janganlah kamu
semua bertafakkur tentang “dzat” Alloh
ta’ala).
Siapa diri kita
?
Sebuah pertanyaan filosofis yang
bagi sebagian orang jawaban ini akan ditemukan ketika kita naik gunung naik gunung merupakan aktivitas yang
melelahkan dan menguras tenanga yang amat banyak tentunya puncak menjadi tujuan
akhir dari para pendaki. arjuno dengan tingginya melebihi 2000 mpdl dengan rute
yang menanjak mungkin kemiringanya 70 derajat
tentunya merupkan rute yang
membosankan ,nah dari kejenuhan ini biasanya muncul dalam hati ini mengeluh
hingga ngomel gak karu karuan dalam hati,bimbang hingga mengutuk diri sendiri
dan menyesali diri sendiri hingga menyerah dan tak mau meneruskan
perjalanan,ataupun ada juga mereka yang
ngotot untuk jalan sementara temanya sudah menyerah dalam kepayahan dan
tak mau meneruskan perjalanan jadi ketika naik gunung lebih-lebih pertama
kalinya semuanya tentang diri anda akan kelihatan ,naik gunung ibarat sebuah
cermin yang akan menelanjangi diri kita.
Solidaritas
Air merupakan kebutuhan yang sangan
urgen dan vital bagi manusia lebih lebih lagi ketika kita naik gunung tentunya
kebutuhan kita akan air lebih banyak lagi namun sebuah fenomena yang menarik
dan patut di contoh adalah ke”mau”an seorang pendaki berbagi air bahkan bekal
dengan pendaki lain(padahal diapun juga sama membutuhkanya).
Sebuah fenomena yang mungkin langka
sekali bahkan bisa dikatakan telah punah dalam kehidupan masyarakat
modren,kapitalisme telah masuk dalam sendi sendi kehidupan seseorang.hedonisme
dan materialisme telah menjadi kepribadian manusia hingga tidak ada satu
jengkal pun dari bumi tidak lepas yang namanya pajak(sak kilan bumi di pajeki).
Namun kondisi diatas tidak akan
berlaku ketika kita naik gunung,gunung seolah memanggil para pendakinya dan
menyelipkan rasa di hati para pendakinya akan adanya rasa “senasib
sepenanggungan” sehingga ketika kita bertanya dan meminta sesuatu dari pendaki
lainya belum pernah ada kata ”Tidak” yang terucap dari mulut seorang pendaki
tersebut. Di gunung semua sama tak ada yang berbeda tak ada kelas sosial kita
berdiri sama tegak jonggok sama rendahnya.
Sebagai catatan subjektif sebenarnya
banyak ilmu yang bisa kita peroleh dari pendakian gunung bukan hanya arjuno
namun di semua gunung yang pernah saya ndaki pasti ada yang namanya solidaritas
dan pengungkapan jati diri mendaki
gunung merupaka sebuah pembelajaran tentang siapa kita ? bahkan lebih jauh lagi
tentang kemaha indahan Tuhan kita kerana memang tiada yang bisa di upayakan
kecuali belajar dan belajar kerana
belajar tak mengenal waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar