Minggu, 29 Maret 2015

Oleh oleh arjuno

“Naik-naik kepuncak gunung tingi-tinggi sekali” begitulah kata sebuah lagu.lagu yang kita nyayikan ketika pada masa taman kanak-kanak bahkan kita hafal diluar kepala .bagi sebagian besar  orang naik gunung merupakan hal yang sangat membosankan bahkan menjadi aktivitas yang sia-sia namun bagi sebagian orang mendaki  gunung merupakan salah satu hal yang menyenangkan mereka menganggapnya sebagai latihan(riyadhoh) untuk mengetahui siapa diri mereka untuk mengenal  jati diri mereka .termasuk di antaranya Imamuna Abu Hamid Al Ghozali Rohimahulloh Bahkan beliau mengangapnya sebagai salah satu cara agar kita bisa fokus ibadah dan salah satu cara merefreskan pikiran kita dari penatnya kehidupan dunia namun bukan berarti beliau menganjurkan  kita untuk berdiam diri dan berlama –lama di gunung tidak sama sekali tidak.kita umat sayyiduna Muhammad Shollohu alaihi wa sallam yang mau tidak mau selama hayat masih di kandung badan kita masih terikat dengan syari’atnya[i] ,dan kita tak bisa pungkiri bahwa Alloh Ta’ala menciptakan kita sebagai mahluk sosial yang tidak bisa lepas dari manusia yang lainya bahkan Alloh Ta’ala pun memerintahkan kita  untuk bersosialisasi dan menyambung ukhuwah (Qs.alhujarat   :  13)

Semua tergantung niat
Alloh ta’ala menurunkan Qs.3:191 berkenaan dengan pertanyaan nakal seorang quraisy kepada nabi muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang mempertanyakan tanda-tanda keEsaan Alloh ta’ala lantas alloh ta’ala menjawabnya dengan ayat ini.
Memang tidak akan bisa melihat mendengar merasakan atas  ke Esaan Alloh jalla wa a’la kecuali seorang ulil albab yakni lidawiyi uqul mereka yang mempunyai akal dan mempergunakan sebagai mana mestinya.berdecak kagum dan takut hati mereka melihat kemaha esaan alloh ta’ala mereka berdizikir mengingat nama alloh menyabut namaNya dengan jiwa raga mereka.
Ada mereka yang naik gunung untuk sakti,atau ada pula mereka yang naik gunung hanya sekedar plesiran dan ikut ikutan teman(tentunya niat merupakan sesuatu yg asasi dari manusia) sehingga dalam rangka apa ia naik gunung kembalinya kepada person masing-masing.
Namun jika kita meniatkan diri untuk bertafakur dan mentadabburi ayat ayat Alloh ta’ala di alam raya ini dalam membaca kitab Alloh ta’ala yang tidak tertulis (jw : kitab teles) sungguh merupakan sebuah proses pemahaman akan tauhid.
Nabi bersabda : tafakkaruu fi kholkillah wala tafakkaruu fi dzatillah (bertafakurlah kamu semua tentang ciptaan Alloh ta’ala dan  janganlah kamu semua bertafakkur  tentang “dzat” Alloh ta’ala).

Siapa diri kita ?
Sebuah pertanyaan filosofis yang bagi sebagian orang jawaban ini akan ditemukan ketika kita naik gunung  naik gunung merupakan aktivitas yang melelahkan dan menguras tenanga yang amat banyak tentunya puncak menjadi tujuan akhir dari para pendaki. arjuno dengan tingginya melebihi 2000 mpdl dengan rute yang menanjak mungkin kemiringanya 70 derajat  tentunya merupkan  rute yang membosankan ,nah dari kejenuhan ini biasanya muncul dalam hati ini mengeluh hingga ngomel gak karu karuan dalam hati,bimbang hingga mengutuk diri sendiri dan menyesali diri sendiri hingga menyerah dan tak mau meneruskan perjalanan,ataupun ada juga mereka yang  ngotot untuk jalan sementara temanya sudah menyerah dalam kepayahan dan tak mau meneruskan perjalanan jadi ketika naik gunung lebih-lebih pertama kalinya semuanya tentang diri anda akan kelihatan ,naik gunung ibarat sebuah cermin yang akan menelanjangi diri kita.

Solidaritas
Air merupakan kebutuhan yang sangan urgen dan vital bagi manusia lebih lebih lagi ketika kita naik gunung tentunya kebutuhan kita akan air lebih banyak lagi namun sebuah fenomena yang menarik dan patut di contoh adalah ke”mau”an seorang pendaki berbagi air bahkan bekal dengan pendaki lain(padahal diapun juga sama membutuhkanya).
Sebuah fenomena yang mungkin langka sekali bahkan bisa dikatakan telah punah dalam kehidupan masyarakat modren,kapitalisme telah masuk dalam sendi sendi kehidupan seseorang.hedonisme dan materialisme telah menjadi kepribadian manusia hingga tidak ada satu jengkal pun dari bumi tidak lepas yang namanya pajak(sak kilan bumi di pajeki).
Namun kondisi diatas tidak akan berlaku ketika kita naik gunung,gunung seolah memanggil para pendakinya dan menyelipkan rasa di hati para pendakinya akan adanya rasa “senasib sepenanggungan” sehingga ketika kita bertanya dan meminta sesuatu dari pendaki lainya belum pernah ada kata ”Tidak” yang terucap dari mulut seorang pendaki tersebut. Di gunung semua sama tak ada yang berbeda tak ada kelas sosial kita berdiri sama tegak jonggok sama rendahnya.
Sebagai catatan subjektif sebenarnya banyak ilmu yang bisa kita peroleh dari pendakian gunung bukan hanya arjuno namun di semua gunung yang pernah saya ndaki pasti ada yang namanya solidaritas dan pengungkapan jati diri  mendaki gunung merupaka sebuah pembelajaran tentang siapa kita ? bahkan lebih jauh lagi tentang kemaha indahan Tuhan kita kerana memang tiada yang bisa di upayakan kecuali belajar dan belajar  kerana belajar tak mengenal waktu.



[i] [i] Ihya ulumuddin(II/239)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar