“Likulli
maqomin maqolun walikulli maqolun maqomin”
disetiap
tingkatan ada bahasa dan disetiap bahasa ada tingkatan (risalatul maymuniyah)
Dewasa ini banyaknya kawula muda
khususnya dalam dunia akademis yang menggandrungi spiritualisme hal ini di
tandai dengan maraknya kajian ataupun kegiatan kegiatan keagamaan yang mulai
marak dan masuk kedalam kampus.spiritualisme dalam artian jalan untuk menuju
Tuhan untuk menuju sang pencipta manusia ,sebagai sebuah ilmu yang bersifat
esoteris ada berbagai macam tingkatan tingkatan atau maqom yang berbeda di
setiap pelaku spiritualisme.
Penulis sendiri sehari hari
berkumpul bergaul bahkan berdiskusi dengan pelaku spiritualisme zikir,wirid dan
suluk menjadi makanan mereka dalam berhari -hari namun tidak jarang pula kita
menemukan sebuah “penyimpangan spiritualitas” akibat dari “laku” yang banyak
menimbulkan kegoncangan jiwa,bahkan ada pula yang menimbulkan depresi berat .
Sayangnya hal semacam ini dianggap
biasa bagi mereka yang menggandrungi
esoterisme bahkan hal seperti ini dianggap sebagai berhasilnya praktek
spiritual mereka.Saya pernah berdiskusi dengan salah seoarang pelaku
spritualisme yang pada akhirnya berkesimpulan bahwa unttuk berbicara apa itu
spiritualisme kita tak bisa dan tak cukup dengan kata kata mau tidak mau kita harus menyelami nya kemudian dia beranalogi
dengan sebuah kopi bahwa kita tak akan tau rasanya kopi kalau anda tak
mencobanya.yah memang sampai disini saya sepakat bahwa untuk mengetahui suatu
rasa kita tidak bisa kata orang,namun akan menjadi sebuah mekanisme pengambilan
kesimpulan yang salah apabila diktum ini disama ratakan(gebyarologi) dengan
perkara yang lainya.
Sungguh akan salah fatal jika kita menyimpan diktum
itu dalam hati kita dan tanpa pandang bulu dimana pun dan kapanpun ia bisa di
gunakan tau ketika kita berucap kita tak akan tau rasanya kopi kalau anda tak
mencobanya itu sama saja dengan mengatakan
dari mana nabi tau dasyatnya siksa kubur bukankah nabi sendiri belum
pernah merasakan siksa kubur ? betapa banyaknya ajaran agama ini yg tidak boleh
di sampaikan.
Maka benarlah ungkapan syaikh shohibul
kitab risalatul maymuniyah hafidohulloh maka tempatkanlah sesuatu sesuai dengan
tempatnya.(may)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar