Ketika temen temen membaca judul
diatas mungkin terbesit di dalam hati teman teman menuduh saya sebagai orang
liberal,kiri muktazilah atau bahkan lebih ekstrem lagi seorang
atheis.berkembangnya sebuah paradigma dan mainstrem bahwa agama dan Tuhan
adalah sesuatu yang bersifat subjektif dan lepas dari nalar, mengimaninya
adalah wajib dan mempertanyakanya adalah dosa, sesat,kafir zindiq dan bebagai
macam vonis yang berujung pada neraka
selalu melekat di belakang nama mereka yang mencoba menggapai Tuhan
dengan nalarnya entah mulai kapan dan bagaimana prosesnya ? saya tidak tau.
Tuhan memang tidak terbatas dan
manusia terbatas, ini sebuah diktum mutlaq yang kita sepakati bersama namun
dengan diktum ini bukan berarti Tuhan tidak bisa di nalar bahkan dalam beberapa
literatur orang yang mengimani Tuhan dan
melaksanakan ajaran ajaran Tuhan yang disampaikan lewat utusanya disebut
sebagai mereka yang terselamatkan dan tidak akan pula memahami akan ajaran Tuhan
kecuali bagi mereka YANG BERFIKIR.Sebutan jahiliyyah,domba yang tersesat
dan primitif selalu melekat pada mereka
yang tidak mau mengimani Tuhan atau
mereka yang “gagal” memahami Tuhan.kerana agama sebagai sebagai aturan
perangkat yang di turunkan oleh Tuhan dijalankan oleh yang manusia yang berakal
sungguh menjadi pertanyaan adalah bisakah ajaran agama yang tidak masuk akal di
jalankan oleh meraka yang berakal ?
sejak digunakan oleh zeno dari
citium logika[i] merupakan
ilmu yang digunakan sebagai pisau analisa sebuah premis ataukah doktrin.
logika memang telah dirasa khasiatnya,logika membantu manusia berfikir
lurus,efisien,tepat dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari
kekeliruan .
Segala sesuatu yang padanya terdapat
kebenaran,pasti bisa di nalar oleh manusia mungkin akal manusia belum sampai
kepadanya dalam artian belum sampai untuk memecahkan sebuah persoalan ataupun
fenomena yang ada misalkan jika kesurupan(masuknya lelembut dalam tubuh
manusia) itu benar adanya ilmu pengetahuan harus bisa memecahkanya sains
harus bisa memecahkanya.
Aristotles(lahir : 384 SM) mempunyai teori tentang causa prima(penyebab
awal) guna menalar dan melogikakan Tuhan sehingga Tuhan menjadi masuk akal namun
agaknya pendapat aristoteles tersebut berbeda dengan abrahamic religion(agama
agama ibrahimiyyah) kerana aristoteles tidak mengakui Tuhan sebagai
kholik/pencipta kerana menurutnya jagat raya adalah kekal hanya geraknya di
ciptakan oleh Tuhan[ii]
Yang dimaksud dengan kebenaran
adalah kesesuaian antara pikiran dan kenyataan serta ada kesuaian atau tidak adanya sesuatu yang
bertentangan dalam dirinya maka akan
salah jika kita katakan yudha adalah orang bisu yang menjadi
juara 1 MTQ (lomba baca qur’an),Pertentangan pemikiran terdapat pula
pada sesuatu yang tidak dapat di tangkap pengertianya/maksudnya (dalam term
nahwu disebut mufid) maka akan salah jika kita katakan Tuhan bisa membuat
tongkat yang berujung satu,Tuhan bisa memasukan benda bervolume 40 cm kedalam
benda bervolume 10 cm ,Tuhan bukanlah manusia namun Tuhan Mewujudkan dirinya
menjadi manusia ataupun Tuhan dapat menciptakan mahluk yang tidak mempunyai
sifat-sifat kemahlukan.
Banyak dari persoalan persoalan
tentang trinitas ataupun trimurti Ataupun adanya Tuhan berwujud manusia(arrobu
almutajasad/antroporism) hingga kini masih menjadi persoalan yang dirisaukan antar agama besar namun ketika kita melirik logika
persoalan tersebut akan selesai,bagi logika persoalan persoalan di atas adalah
salah kerana tidak menghasilkan maksud yang bulat.
Logika tidak mengakui adanya
dualisme dalam kebenaran maka akan salah(tidak logis) ketika kita
mengatakan 1 + 1 adalah 3 atau 5 atau
berapa saja selain 2 karena menurut akal 1+1(bilangan real) adalah 2,maka
ajaran ,sekte ataupun apa saja yang
mengatakan 1 = 3 tidak masuk akal kerana
memang secara logika tidak masuk dan tidak bisa di akal dan ketika ada orang
yang tidak bisa melogikakan 3 adalah 1 bukan berarti akal dia belum sampai tapi memang itu merupakan
hal yang berlawanan dengan akal dan kebenaran logika namun harus disadari adakalanya manusia tidak mampu menghitung 12 : 1/3 x 1/6 : 1/4 kerana memang kemampuan manusia
terbatas namun tentunya perkalian dan pembagian di atas TETAP MASUK AKAL kerana pasti ketemu dan ada jawabanya
walaupun membutuhkan waktu justru kerana membutuhkan waktu manusia tertantang
untuk menciptakan kalkulator guna menjawab perhitungan perhitungan yang rumit
dengan cepat.
Tulisan saya ini mungkin akan
menyinggung para penganut agama lain namun ini hanyalah sebuah cara agar kita
dapat menuntaskan apa yang selama ini jadi problem kita bersama saya menyadari
bahwa tulisan ini ibarat sebuah lilin
walaupun ia bukan lah matahari yang cahayanya dapat menyinari dunia namun harus
kita akui secercah cahaya lilin telah turut serta dalam menerangi kegelapan dan
memberi sedikit warna baru dalam kegelapan daripada mengutuk kegelapan dan
menunggu datangnya pagi lebih baik kita menyalakan lilin untuk menerangi
kegelapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar